Gambar Ilustrasi


Deskripsi Masalah

Dalam beberapa hadits, Nabi ﷺ menjelaskan adanya kelompok manusia yang mendapatkan keutamaan besar di akhirat, di antaranya mereka berada di atas gundukan dari minyak kasturi (كثيب من المسك) dan tidak mengalami ketakutan besar (الفزع الأكبر). Salah satu dari mereka adalah seorang imam yang memimpin suatu kaum, sementara para makmum merasa ridha dan senang kepadanya (رجل أمّ قوماً وهم له راضون).

Sebaliknya, dalam hadits lain disebutkan bahwa ada tiga golongan yang shalatnya tidak naik (tidak diterima secara sempurna), bahkan tidak melewati kepala mereka (لا تجاوز صلاتهم رؤوسهم). Salah satunya adalah seorang imam yang memimpin suatu kaum, namun para makmumnya tidak menyukainya (إمام أمّ قوماً وهم له كارهون).

Dari dua hadits ini, tampak bahwa keridhaan atau ketidaksenangan makmum terhadap imam memiliki pengaruh terhadap nilai dan penerimaan shalat berjamaah.


Pertanyaan:

Dalam konteks apa keridhaan atau ketidaksenangan makmum kepada imam dijadikan standar dalam penilaian tersebut?


Jawaban:

Standar keridhaan makmum kepada imam dilihat dari aspek syar’i, bukan semata-mata perasaan pribadi.

Maksud “ridha” atau “tidak ridha” dalam hadits tersebut bukan sekadar suka atau tidak suka secara subjektif, tetapi diukur dengan pertimbangan yang dibenarkan oleh syariat. Di antaranya:

  • Adanya izin atau penerimaan dari makmum, baik secara langsung maupun melalui kebiasaan yang berlaku di masyarakat (urf).
  • Kelayakan imam secara agama, seperti baik bacaan shalatnya, memahami hukum-hukum shalat, serta menjaga akhlak dan perilaku.
  • Tidak adanya alasan syar’i untuk membenci, misalnya karena imam fasik, buruk bacaannya, atau zalim.
Jika makmum tidak ridha karena alasan yang dibenarkan syariat (misalnya imam tidak layak), maka hal itu berpengaruh pada kesempurnaan pahala shalat imam.

Sebaliknya, jika ketidaksukaan makmum hanya didasari oleh hawa nafsu, perbedaan pribadi, atau hal duniawi yang tidak dibenarkan, maka hal itu tidak menjadi ukuran dalam hadits tersebut, dan tidak merugikan imam dari sisi pahala.

Dengan demikian, yang menjadi standar adalah keridhaan yang sesuai dengan nilai-nilai syariat, yaitu adanya penerimaan dari makmum dan terpenuhinya syarat-syarat kelayakan seorang imam dalam shalat.


Referensi Jawaban:

⁨Ust. Muhammad Sueb Fattah

وَإِنْ كَرِهَهُ) أَيْ الْإِمَامَ (أَكْثَرُ مِنْ نِصْفِ الْقَوْمِ لِخُلُقٍ) عِبَارَةُ الرَّوْضَةِ لِأَمْرٍ (مَذْمُومٍ شَرْعًا) كَوَالٍ ظَالِمٍ وَكَمُتَغَلِّبٍ عَلَى إمَامَةِ الصَّلَاةِ وَلَا يَسْتَحِقُّهَا، أَوْ لَا يَحْتَرِزُ مِنْ النَّجَاسَةِ أَوْ يَمْحُو هَيْئَاتِ الصَّلَاةِ، أَوْ يَتَعَاطَى مَعِيشَةً مَذْمُومَةً، أَوْ يُعَاشِرُ الْفَسَقَةَ، أَوْ نَحْوَهُمْ (كُرِهَتْ لَهُ الْإِمَامَةُ). وَإِنْ نَصَبَهُ لَهَا الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ لِخَبَرِ ابْنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ «ثَلَاثَةٌ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ» وَالْأَكْثَرُ فِي حُكْمِ الْكُلِّ (لَا الِاقْتِدَاءُ) مِنْهُمْ (بِهِ) فَلَا يُكْرَهُ، وَهَذَا مِنْ زِيَادَتِهِ وَذَكَرَهُ فِي الْمَجْمُوعِ أَمَّا إذَا كَرِهَهُ دُونَ الْأَكْثَرِ، أَوْ الْأَكْثَرُ لَا لِأَمْرٍ مَذْمُومٍ شَرْعًا فَلَا تُكْرَهُ لَهُ الْإِمَامَةُ وَاسْتَشْكَلَ ذَلِكَ بِأَنَّهُ إذَا كَانَتْ الْكَرَاهَةُ لِأَمْرٍ مَذْمُومٍ شَرْعًا فَلَا فَرْقَ بَيْنَ كَرَاهَةِ الْأَكْثَرِ وَغَيْرِهِمْ وَأُجِيبَ بِأَنَّ صُورَةَ الْمَسْأَلَةِ أَنْ يَخْتَلِفُوا فِي أَنَّهُ بِصِفَةِ الْكَرَاهَةِ أَمْ لَا فَيُعْتَبَرُ قَوْلُ الْأَكْثَرِ؛ لِأَنَّهُ مِنْ بَابِ الرِّوَايَةِ نَعَمْ إنْ كَانَتْ الْكَرَاهَةُ لِمَعْنًى يُفَسَّقُ بِهِ كَزِنًا أَوْ شُرْبِ خَمْرٍ كُرِهَ لَهُ الْإِمَامَةُ وَكُرِهَ لِغَيْرِهِ الِاقْتِدَاءُ بِهِ وَلَا مَعْنَى لِلْفَرْقِ بَيْنَ الْأَكْثَرِ وَغَيْرِهِ إلَّا أَنْ يَخْشَى مِنْ التَّرْكِ فِتْنَةً، أَوْ ضَرَرًا فَلَا يُكْرَهُ لَهُ الِاقْتِدَاءُ وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ اقْتِدَاءُ السَّلَفِ بِالْحَجَّاجِ وَأَمْثَالِهِ كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ الْأَذْرَعِيُّ، وَهُوَ يُؤْخَذُ مِمَّا مَرَّ فِي الْبَابِ
الأنصاري، زكريا، أسنى المطالب في شرح روض الطالب، ٢٣٣/١

Ra Taufiq⁩

١٠٨١ - وَيَعْضُدهُ عُمُومُ مَا رَوَى ابْنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: «ثَلَاثَةٌ عَلَى كُثْبَانِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَبْدٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ، وَرَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ بِهِ رَاضُونَ، وَرَجُلٌ يُنَادِي بِالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

الى ان قال

وَيُعَضِّدُ التَّقْيِيدَ بِالْإِذْنِ عُمُومُ قَوْلِهِ فِي حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ " وَهُمْ بِهِ رَاضُونَ ". وَقَوْله فِي حَدِيث أَبِي هُرَيْرَةَ: " إلَّا بِإِذْنِهِمْ " كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ فَإِنَّهُ يَقْتَضِي جَوَازُ إمَامَةِ الزَّائِرِ عِنْدَ رِضَا الْمَزُورِ. قَالَ الْعِرَاقِيُّ: وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ الْمَزُورُ أَهْلًا لِلْإِمَامَةِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلًا كَالْمَرْأَةِ فِي صُورَةِ كَوْن الزَّائِرِ رَجُلًا، وَالْأُمِّيِّ فِي صُورَة كَوْن الزَّائِر قَارِئًا وَنَحْوهمَا فَلَا حَقَّ لَهُ فِي الْإِمَامَةِ
الشوكاني، نيل الأوطار، ١٩٠/٣


قوله (وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِذَا أَذِنَ صَاحِبُ الْمَنْزِلِ لِغَيْرِهِ فَلَا بَأْسَ أَنْ يُصَلِّيَ بِهِمْ) قَالَ فِي الْمُنْتَقَى وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِإِمَامَةِ الزَّائِرِ بِإِذْنِ رَبِّ الْمَكَانِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ أَبِي مَسْعُودٍ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَيُعَضِّدُهُ عُمُومُ مَا روى بن عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ عَلَى كُثْبَانِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَبْدٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ وَرَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ بِهِ رَاضُونَ وَرَجُلٌ يُنَادِي بِالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَؤُمَّ قَوْمًا إِلَّا بإذنهم ولا يخص نفسه بدعوة دونهم فإن فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ (وَكَرِهَهُ بَعْضُهُمْ) أَيْ وَإِنْ أَذِنَ صَاحِبُ الْمَنْزِلِ وَقَالُوا السُّنَّةُ أَنْ يُصَلِّيَ صَاحِبُ الْبَيْتِ أَيْ يَؤُمَّ صَاحِبُ الْبَيْتِ وَلَا يَؤُمُّ الزَّائِرُ لِحَدِيثِ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ زَارَ قَوْمًا فَلَا يَؤُمَّهُمْ وَلْيَؤُمَّهُمْ رَجُلٌ مِنْهُمْ
رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إِلَّا بن ماجه
وقال هؤلاء قوله (إلا بإذنه) في حَدِيثُ الْبَابِ مُتَعَلِّقٌ بِقَوْلِهِ لَا يُجْلَسُ عَلَى تَكْرِمَتِهِ وَلَيْسَ مُتَعَلِّقًا بِقَوْلِهِ لَا يَؤُمُّ الرَّجُلُ (فَإِذَا أَذِنَ فَأَرْجُو أَنَّ الْإِذْنَ فِي الْكُلِّ) فَقَوْلُهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ مُتَعَلِّقٌ بِكِلَا الْفِعْلَيْنِ عِنْدَ أَحْمَدَ
قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ وَيُعَضِّدُهُ عُمُومُ قوله في حديث بن عَمْرٍو هُمْ بِهِ رَاضُونَ وَقَوْلُهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلَّا بِإِذْنِهِ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ يَعْنِي صَاحِبَ الْمُنْتَقَى فَإِنَّهُ يَقْتَضِي جَوَازَ إِمَامَةِ الزائر عند رضي الْمَزُورِ قَالَ الْعِرَاقِيُّ وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ الْمَزُورُ أهلا ل مامة فَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلًا كَالْمَرْأَةِ فِي صُورَةِ كَوْنِ الزَّائِرِ رَجُلًا وَالْأُمِّيِّ فِي صُورَةِ كَوْنِ الزَّائِرِ قَارِئًا وَنَحْوِهِمَا فَلَا حَقَّ لَهُ فِي الْإِمَامَةِ
وَاعْلَمْ أَنَّ الْإِمَامَ الْبُخَارِيَّ قَالَ فِي صَحِيحِهِ بَابٌ إِذَا زَارَ الْإِمَامُ قَوْمًا فَأَمَّهُمْ ثُمَّ ذَكَرَ فِيهِ
عبد الرحمن المباركفوري، تحفة الأحوذي، ٣٠/٢



Gambar Ilustrasi


Deskripsi Masalah

Seorang pria menikah dengan seorang wanita kaya yang sedang menderita sakit kritis. Berdasarkan keterangan dokter, kesembuhan wanita tersebut hanya dapat dicapai melalui operasi dengan biaya sebesar Rp100 juta.

Namun, pria tersebut mengaku mampu menyembuhkan penyakit wanita itu tanpa operasi, dengan syarat wanita tersebut bersedia menikah dengannya. Sebelum akad nikah berlangsung, keduanya membuat kesepakatan bahwa sang suami tidak mampu memberikan nafkah secara sempurna, baik lahir (materi) maupun batin (hubungan suami istri), karena keterbatasan yang dimilikinya. Kesepakatan ini disetujui oleh pihak wanita.

Setelah pernikahan berlangsung dan berjalan beberapa waktu, wanita tersebut benar-benar sembuh total dari penyakitnya tanpa melalui operasi sebagaimana yang disarankan dokter.


Pertanyaan:

1. Apakah biaya operasi sebesar Rp100 juta yang sebelumnya disebutkan oleh dokter dapat dianggap sebagai bagian dari nafkah suami, mengingat suami tersebut berhasil menyembuhkan istrinya tanpa operasi?

2. Apakah suami tersebut termasuk orang yang menyia-nyiakan istrinya apabila ia hanya mampu menggauli istrinya satu kali dalam sebulan, dengan alasan adanya tekanan dari pihak luar (ancaman mantan suami istri tersebut dan tidak adanya restu dari ayahnya)?


Jawaban:

1. Biaya Rp100 juta tersebut tidak termasuk nafkah suami.

Nafkah dalam pernikahan adalah kewajiban suami berupa pemberian yang nyata dan dikeluarkan dari hartanya untuk memenuhi kebutuhan istri, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya. Dalam kasus ini, tidak ada pengeluaran dari pihak suami sebesar Rp100 juta tersebut. Kesembuhan istri bukan berasal dari pemberian materi suami, melainkan dari metode pengobatan yang ia lakukan. Oleh karena itu, biaya yang disebutkan dokter tidak dapat dihitung sebagai nafkah.

2. Suami tersebut tidak termasuk menyia-nyiakan istrinya dalam kondisi ini.

Hal ini karena sejak awal telah ada kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak bahwa suami memiliki keterbatasan dalam memberikan nafkah lahir dan batin. Dalam fiqih, kerelaan (ridha) dari istri terhadap kondisi suami dapat menggugurkan tuntutan tertentu selama tidak melanggar prinsip dasar pernikahan.

Adapun terkait hubungan suami istri (jima’), para ulama menjelaskan bahwa kewajiban minimalnya adalah terpenuhinya hak tersebut dalam batas yang tidak menimbulkan mudarat. Sebagian pendapat menyatakan bahwa kewajiban itu tidak ditentukan jumlah pastinya, bahkan ada yang menyebut minimal sekali selama tidak ada uzur. Maka, jika suami hanya mampu melakukannya sekali dalam sebulan dan hal itu telah dimaklumi serta disetujui oleh istri, maka tidak termasuk perbuatan menyia-nyiakan istri.

Namun demikian, dalam kehidupan rumah tangga yang ideal, suami tetap dianjurkan berusaha semaksimal mungkin memenuhi hak-hak istrinya, baik lahir maupun batin, demi terciptanya keharmonisan dan terhindar dari konflik di kemudian hari.


Referensi Jawaban 1:

⁨Ra Taufiq⁩

معنى النفقة وأسبابها: النفقة مشتقة من الإنفاق: وهو الإخراج، ولا يستعمل إلا في الخير. وجمعها نفقات. وهي لغة: ما ينفقه الإنسان على عياله. وهي في الأصل: الدراهم من الأموال. وشرعاً: هي كفاية من يمونه من الطعام والكسوة والسكنى (١). وعرفاً هي الطعام. والطعام: يشمل الخبز والأُدم والشرب. والكسوة: السترة والغطاء. والسكنى: تشمل البيت ومتاعه ومرافقه من ثمن الماء ودهن المصباح وآلة التنظيف والخدمة ونحوها بحسب العرف

وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، ٧٣٤٨/١٠


Referensi Jawaban 2:

Ra Taufiq⁩

حكم الاستمتاع أو هل الوطء واجب؟ قال الحنفية (١): للزوجة أن تطالب زوجها بالوطء؛ لأن حله لها حقها، كما أن حلها له حقه، وإذا طالبته يجب على الزوج
وقال المالكية (٢): الجماع واجب على الرجل للمرأة إذا انتفى العذر
وقال الشافعية (٣): ولا يجب عليه الاستمتاع إلا مرة؛ لأنه حق له، فجاز له تركه كسكنى الدار المستأجرة، ولأن الداعي إلى الاستمتاع الشهوة والمحبة، فلا يمكن إيجابه، والمستحب ألا يعطلها، لقول رسول الله صلّى الله عليه وسلم لعبد الله بن عمرو بن العاص: «أتصوم النهار؟ قلت: نعم، قال: وتقوم الليل؟ قلت: نعم، قال: لكني أصوم وأفطر، وأصلي وأنام، وأمسّ النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني» (٤) ولأنه إذا عطلها لم يأمن الفساد ووقع الشقاق

وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، ٦٥٩٩/٩


الإبراء من النفقة: الإبراء إما أن يكون عن نفقة ماضية أو مستقبلة (١
أـ فإن كان عن نفقة ماضية: صح إبراء الزوجة عند الحنفية إن كانت النفقة مفروضة بقضاء القاضي أو بتراضي الزوجين؛ لأنها صارت ديناً ثابتاً في ذمة الزوج، والإبراء يكون مما هو ثابت في الذمة. ولا يصح الإبراء عن نفقة مفروضة بقضاء أو تراض؛ لأنها لم تثبت ديناً في الذمة، ولا يكون الإبراء إلا عما هو ثابت في الذمة
وقال الجمهور: يصح الإبراء عنها؛ لأنها تصير ديناً في ذمة الزوج بمجرد الامتناع عن الإنفاق، سواء أكانت مقررة بالقضاء أم بالتراضي أم غير مقررة
ب ـ وأما الإبراء عن نفقة مستقبلة: فلا يصح اتفاقاً؛ لأن النفقة لم تجب بعد، فلا تقبل الإبراء

وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، ٧٤٠٧/١٠


⁨Ust. Umam Sby⁩

وَفِيهِ سِتَّةُ أَبْوَابٍ الْأَوَّلُ فِي) نَفَقَةِ (الزَّوْجَةِ) بَدَأَ بِهَا؛ لِأَنَّهَا أَقْوَى لِوُجُوبِهَا بِالْمُعَاوَضَةِ وَغَيْرِهَا بِالْمُوَاسَاةِ؛ وَلِأَنَّهَا لَا تَسْقُطُ بِمُضِيِّ الزَّمَانِ وَالْعَجْزِ بِخِلَافِ غَيْرِهَا، وَالْأَصْلُ فِي وُجُوبِهَا مَعَ مَا يَأْتِي قَوْله تَعَالَى {وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ} [البقرة: 233] وَخَبَرُ «اتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

الأنصاري، زكريا، أسنى المطالب في شرح روض الطالب، ٤٢٦/٣


Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Salam Secangkir Kopi

Rumusan ini merupakan hasil belajar bersama di grup "Munadharah Kitab Kuning" yang dibentuk di media chating. Dengan terbatasnya ruang, waktu dan fasilitas yang kurang maksimal, maka semua anggota grup sepakat bahwa rumusan ini bukanlah jawaban akhir, melainkan hanya sebagai wadah bahan pertimbangan dalam memahami norma hukum islam.

Popular Posts